Dalam upaya lebih meningkatkan kualitas pendidikan kepramukaan di Tanah Air, Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka menyelenggarakan acara bertajuk "Lokakarya Revitalisasi Gerakan Pramuka" di Jakarta, 5 dan 6 Agustus 2010. Acara yang diikuti para pengurus Kwarnas dan Kwartir Daerah (Kwarda) dari seluruh Indonesia itu, dihadiri juga oleh wakil-wakil dari Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Agama.
Setelah dicanangkannya Revitalisasi Gerakan Pramuka oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Pramuka Utama dan Ketua Majelis Pembimbing Nasional Gerakan Pramuka saat berlangsungnya upacara Hari Pramuka 14 Agustus 2006, Gerakan Pramuka terus berbenah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya.
Sebagai organisasi pendidikan bagi anak-anak dan remaja di luar pendidikan di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah, Gerakan Pramuka memang menjadi harapan Pemerintah dan masyarakat luas. Khususnya dalam pembentukan karakter bangsa, agar anak-anak dan remaja Indonesia dapat tumbuh menjadi manusia-manusia yang selain berguna bagi diri dan keluarganya, juga bermanfaat bagi masyarakat dan negeri tercinta.
Dalam Gerakan Pramuka, pendidikan bagi anak-anak dan remaja dilakukan di gugusdepan-gugusdepan. Tempat pendidikan yang bernama gugusdepan itu ada yang berpangkalan atau terletak di sekolah dan ada juga yang terletak di lingkungan atau kompleks perumahan dan lingkungan kemasyarakatan lainnya.
Memang harus diakui, gugusdepan sampai saat ini terbanyak berpangkalan di lingkungan sekolah. Bisa dibilang, 95 persen gugusdepan ada di sekolah, termasuk di dalamnya perguruan tinggi, dan hanya sekitar 5 persen yang berada di lingkungan kemasyarakatan.
Apa pun itu, gugusdepan sesuai namanya merupakan gugus paling depan dalam membina anak-anak dan remaja melalui kegiatan-kegiatan kepramukaan. Itulah sebabnya, seperti dikatakan Ketua Kwarnas yang akrab dipanggil Kak Azrul Azwar, dalam pelaksanaan revitalisasi Gerakan Pramuka, maka gugusdepan yang harus ditingkatkan kualitasnya. Bahkan, menurut Kak Azrul, diharapkan 100 persen gugusdepan di lingkungan sekolah, terutama sekolah dasar dan menengah pertama, telah aktif melaksanakan kegiatan kepramukaan pada 2014.
"Telah aktif" memang kata yang penting, karena walaupun gugusdepan telah banyak ada di lingkungan sekolah, namun dalam kenyataannya banyak pula yang tidak aktif. Siswa yang ada di sekolah tersebut hanya diminta berseragam pramuka, namun hampir tak ada kegiatan kepramukaan di sana. Kalau pun ada, hanya sekadarnya saja, seperti hanya sekadar latihan upacara bendera dan baris-berbaris, yang akhirnya membosankan bagi anak-anak dan remaja.
Padahal, kegiatan kepramukaan banyak sekali yang menarik untuk dilakukan. Selain kegiatan di alam terbuka, mulai dari berkemah, berarung jeram, mendaki gunung, sampai menjelajah rimba dan lainnya, di perkotaan pun banyak kegiatan kepramukaan yang bisa dilaksanakan. Mulai dari kegiatan menjelajah kota sampai kegiatan yang berkaitan dengan teknologi informasi sesuai kemajuan zaman. Bahkan, 6 sampai 8 Agustus 2010, para pramuka berkesempatan mengikuti Asia-Pacific Air & Internet Scout Jamboree. Ini adalah kegiatan jambore udara dengan menggunakan peralatan komunikasi amatir radio dan jambore internet dengan memanfaatkan peralatan komputer yang terhubung dengan internet.
Jadi, sebagaimana saat ini anak-anak dan remaja banyak yang senang dengan kegiatan siaran radio dan DJ (disc jockey) serta kegiatan berinternet seperti ber-facebook dan ber-twitter, juga membuat blog dan banyak lagi, semua kegiatan itu ada di lingkungan Gerakan Pramuka. Gugusdepan-gugusdepan bisa ikut berpartisipasi dengan melibatkan sebanyak mungkin anggotanya. Tunggu apa lagi.

0 komentar:
Poskan Komentar